PENGGUNAAN GAYA BAHASA DALAM REKLAME MAJALAH FEMINA EDISI TAHUN 2009.

I. PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale [et al],1971 : 220; Guntur Tarigan,2009 : 4). Gaya Bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca (Guntur Tarigan, 2009 : 4)

Sehubungan dengan hal tersebut Toeti Adhitama (1978 : 33) mengatakan bahwa supaya komunikasi dapat efektif, pembicara (penulis) selain harus menghayati apa yang harus dikemukakannya ia juga harus trampil menggunakannya. Ia bukan harus menguasai tata bahasanya tetapi juga harus peka terhadap gaya bahasa yang dipilihnya.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa “gaya bahasa adalah cara mengungkapkan pikiran melalui bahasa secara khas yang memperlihatkan jiwa dan kepribadian penulis (pemakai bahasa). Sebuah gaya bahasa yang baik harus mengandung tiga unsur berikut: kejujuran, sopan-santun, dan menarik (Keraf,1985 : 113). Kejujuran dalam bahasa berarti kita mengikuti aturan-aturan, kaidah-kaidah yang baik dan benar dalam berbahasa. Pemakaian kata-kata yang kabur dan tak terarah, serta penggunaan kalimat yang berbelit-belit, adalah jalan untuk mengundang ketidakjujuran. Sedangkan yang dimaksud dengan sopan santun adalah memberi hormat atau menghormati yang diajak bicara, khususnya pendenganr atau pembaca. Rasa hormat dalam gaya bahasa dimanifestasikan melalui kejelasan dan kesingkatan. Menyampaikan sesuatu secara singkat dan jelas berarti  tidak membuat pembaca dan pendengar memeras keringat untuk mencari tahu apa yang ditulis atau katakan.

Dalam suatu reklame banyak kita jumpai ragam gaya bahasa. Reklame bukan sekedar untuk menarik perhatian pembaca, tetapi yang lebih penting adalah dapat membangkitkan keinginan orang untuk mengetahui atau membaca teks tersebut, serta dapat mengerakkan keinginan orang yang bersangkutan unutk memaklumi atau memiliki apa yang direklamekan itu. Teks reklame harus disusun secara singkat dengan menggunakan kalimat-kalimat pendek dan kata-kata jitu yang mudah dipahami. Dengan hanya sekali baca orang harus sudah mengerti maksudnya.

Secara sadar atau tidak, bahasa reklame memiliki kemungkinan besar mampu mempengaruhi perkembangan bahasa sekaligus dapat juga dipakai menjadi sarana pembinaan bahasa Indonesia. Guru dapat memberitahukan kepada siswa akan pentingnya pemahaman mengenai gaya bahasa dengan menjadikan reklame sebagai media pembelajaran luar ruang. Guru juga dapat mengarahkan siswa untuk mempelajari gaya bahasa dengan menjadikan reklame sebagai medianya. Menyadari pentingnya mempelajari persoalan gaya bahasa, maka penulis berkeinginan mengadakan penelitian berupa analisis gaya bahasa pada reklame yang terdapat dalam majalah Femina edisi tahun 2009 dan implikasinya terhadap pembelajaran bahasa Indonesia di Sekolah Menengah Atas.

Penelitian ini difokuskan pada reklame yang terdapat dalam majalah Femina edisi tahun 2009. Pemilihan majalah Femina didasarkan pada beberapa pertimbangan, yaitu (1) mudah dijangkau masyarakat, (2) harganya tidak terlalu mahal, (3) banyak memuat reklame yang dapat digunakan sebagai sumber informasi dalam memenuhi kebutuhan sehari-hari. Pemilihan gaya bahasa didasarkan  bahwa masih sedikit sekali penelitian yang meneliti mengenai gaya bahasa. Adapun  Pemilihan edisi tahun 2009 dengan pertimbangan bahwa edisi  tahun 2009 adalah edisi teranyar, dan pemilihan reklame dikarenakan  reklame adalah hal yang paling sering dijumpai banyak orang dan memuat banyak sekali informasi yang dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari.

Sepengetahuan peneliti, penelitian tentang penggunaan gaya bahasa dalam reklame majalah Femina belum pernah dilakukan. Anis nuzuliah pada tahun 2003 telah mengadakan penelitian yang berjudul “Telaah gaya bahasa dalam forum pendapat harian Jawa Pos tahun 2002” (Suatu tinjauan deskriptif terhadap gaya bahasa penutur laki-laki dan perempuan berdasarkan gaya bahasa pertentangan). Penelitian tersebut mendeskripsikan pemakaian jenis-jenis gaya bahasa dalam rubrik “Forum Pendapat” harian Jawa Pos” tahun 2002. Dari hasil penelitiannya dideskripsikan pemakaian jenis-jenis gaya bahasa pertentangan yang digunakan penutur laki-laki, jenis gaya bahasa pertentangan yang digunakan penutur perempuan, tingkat keseringan penggunaan masing-masing jenis gaya bahasa pertentangan yang digunakan penutur laki-laki, dan tingkat keseringan penggunaan masing-masing jenis gaya bahasa pertentangan yang digunakan penutur perempuan.

Penelitian diatas mempunyai persamaan dan perbedaan dengan penelitian ini. Persamaan penelitian Anis Nuzuliah terletak pada materi yang dibahas, yaitu penggunaan gaya bahasa dan  metode (deskriptif).

Perbedaannya terletak pada sumber data dan ruang lingkup masalah yang dibahas. Dalam penelitian ini sumber datanya adalah reklame majalah Femina, sedangkan masalah yang dibahas adalah penggunaan gaya bahasa dalam reklame majalah Femina berdasarkan gaya bahasa pertentangan. Dalam penelitian Anis Nuzuliah sumber datanya adalah rubrik “forum Pendapat” harian  Jawa Pos, sedangkan masalah yang dibahas adalah jenis gaya bahasaa pertentangan yang digunakan penutur laki-laki dan perempuan dan tingkat keseringan masing-masing jenis gaya bahasa pertentangan yang digunakan penutur laki-laki dan perempuan.

Adanya persamaan dan perbedaan tersebut dapat dijadikan sebagai bahan perbandingan dan dapat memperluas wawasan peneliti.

B. Rumusan Masalah

Berdasarkan latar belakang masalah, penulis merumuskan masalah sebagai berikut: “Bagaimanakah penggunaan gaya bahasa pada reklame majalah Femina edisi tahun 2009 dan implikasinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA?”

C. Tujuan Penelitian

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gaya bahasa pada reklame majalah Femina edisi tahun 2009 dan implikasinya dalam pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA.

D. Manfaat Penelitian

Hasil penelitian ini diharapkan dapat:

1.        memberikan pengetahuan bahasa tentang gaya bahasa pada reklame majalah Femina edisi tahun 2009;

2.        memberikan pemahaman yang mendalam terhadap kajian ilmu bahasa indonesia, khususnya gaya bahasa;

3.        memberikan sumbangan terhadap peneliti berikutnya dan dapat dijadikan pemicu bagi peneliti lainnya untuk bersikap kritis dan kreatif dalam menyikapi perkembangan bahasa indonesia.

E. Ruang Lingkup Masalah

Ruang lingkup penelitian ini adalah gaya bahasa pada reklame majalah Femina edisi tahun 2009 berdasarkan gaya bahasa pertentangan yaitu gaya bahasa klimaks, gaya bahasa antiklimaks,  gaya bahasa pronomasia dan gaya bahasa hiperbola.

II. LANDASAN TEORI

A. Pengertian Gaya Bahasa

Gaya bahasa dalam retorika dikenal dengan istilah style. Kata “style” diturunkan dari bahasa latin “stylus”, yaitu semacam alat untuk menulis pada lempengan lilin. Pada perkembangan berikutnya, kata style lalu berubah menjadi kemampuan dan keahlian untuk menulis atau mempergunakan kata-kata secara indah (Keraf, 1990 : 112). Secara singkat (Guntur Tarigan,2009 : 4) mengemukakan bahwa gaya bahasa merupakan bentuk retorik, yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca.

Selain pengertian diatas, gaya bahasa adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum. Secara singkat penggunaan gaya bahasa tertentu dapat mengubah serta menimbulkan konotasi tertentu (Dale [et al],1971 : 220; Guntur Tarigan,2009 : 4).

Pengertian gaya bahasa dari ketiga ahli tersebut tidak tampak adanya perbedaan yang mendasar, bahkan ketiga pendapat tersebut semakin memperjelas konsep dari gaya bahasa itu sendiri. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa adalah pengaturan kata-kata dan kalimat-kalimat oleh penulis atau pembaca dalam mengekspresikan ide, gagasan, dan pengalamannya untuk meyakinkan atau mempengaruhi penyimak atau pembaca. Untuk itu, gaya bahasa dalam suatu karangan atau tulisan seseorang harus dapat dikuak dan disibakkan dengan pikiran logika dan dengan pertimbangan-pertimbangan yang mantap.

B. Jenis-jenis Gaya Bahasa

Dalam kaitannya dengan gaya bahasa yang berlaku di Indonesia, gaya bahasa dapat ditinjau dari bermacam-macam sudut pandang.  Guntur Tarigan (2009 : 5-6) membedakan gaya bahasa menjadi empat, yaitu (1) gaya bahasa perbandingan , (2) gaya bahasa pertentangan, (3) gaya bahasa pertautan, dan  (4) gaya bahasa perulangan

Tinjauan terhadap gaya bahasa dalam pembahasan ini ditekankan pada gaya bahasa pertentangan. Gaya bahasa pertentangan ini dibedakan menjadi duapuluh macam,  yaitu (1) gaya bahasa hiperbola, (2) gaya bahasa litotes, (3) gaya bahasa ironi, (4) gaya bahasa oksimoron, (5) gaya bahasa pronomasia, (6) gaya bahasa paralepsis, (7) gaya bahasa zeugma dan silepsis, (8) gaya bahasa satire, (9) gaya bahasa inuendo, (10) gaya bahasa antifrasis, (11) gaya bahasa paradoks, (12) gaya bahasa klimaks, (13) gaya bahasa antiklimaks, (14) gaya bahasa aposrof, (15) gaya bahasa anastrof dan inversi, (16) gaya bahasa apofasis dan preterisio, (17) gaya bahasa histeron preteron, (18) gaya bahasa hipalase, (19) gaya bahasa sinisme, dan (20) gaya bahasa sarkasme.

Akan tetepi peneliti tidak membahas keduapuluh gaya bahasa tersebut melainkan hanya empat gaya bahasa, yaitu (1) gaya bahasa klimaks, (2) gaya bahasa antiklimaks, (3) gaya bahasa Pronomasia , dan  (4) gaya bahasa hiperbola.Jenis gaya bahasa lain tidak dibahas, dengan pertimbangan gaya bahasa tersebut tidak mendukung pemecahan masalah yang diteliti.

1. Gaya Bahasa Klimaks

Kata klimaks berasal dari bahasa Yunani “klimax” yang berarti tangga. Klimaks adalah sejenis gaya bahasa yang berupa susunan ungkapan yang semakin lama semakin mengandung penekanan; kebalikannya adalah antiklimaks (Shadily [pem. Red. Um], 1982 : 1795; Guntur Tarigan,2009 : 79).

Gaya bahasa klimaks diturunkan dari kalimat yang bersifat periodik. Klimaks adalah semacam gaya bahasa yang mengandung urutan-urutan pikiran yang setiap kali semakin meningkatkan kepentingannya dari gagasan-agasan sebelumnya.(Keraf,1985 : 124; Guntur Tarigan,2009 : 79).

Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya bahasa klimaks adalah gaya bahasa yang digunakan untuk menyatakan beberapa peristiwa. Hal atau keadaan secara berturut-turut mulai dari urutan pikiran yang nilai atau fungsinya kurang penting kemudian meningkat keurutan pikiran yang lebih penting.

Contoh :

(1)   Tampil sehat dan cantik setiap hari dengan TULL JYE BLEACHING CREAM.

(2) Jangan ambil resiko lagi, lindungi sikecil dari bahaya yang mengancam pertumbuhan otaknya dengan Blender Philips Food Grade.

2. Gaya Bahasa Antiklimaks

Gaya bahasa antiklimaks adalah kebalikan gaya bahasa klimaks. Antiklimaks dihasilkan oleh kalimat yang berstruktur mengendur. Kalimat yang bersifat kendur yaitu bila bagian kalimat yang mendapat penekanan ditempatkan pada awal kalimat.

Sebagian gaya bahasa antiklimaks merupakan suatu acuan yang berisi gagasan yang diurutkan dari yang terpenting berturut-turut ke gagasan yang kurang penting (Keraf,1990 : 125; Guntur Tarigan,2009 : 81).

Berdasarkan uraian diatas, dapat ditarik kesimpulan bahwa gaya bahasa antiklimaks adalah gaya yang digunakan untuk menyatakan beberapa peristiwa, hal atau keadaan secara berturut-turut, mulai dari urutan pikiran yang paling penting ke urutan pikiran yang kurang penting.

Contoh :

(1)   Venus, perhiasan emas berwarna kuning dengan kadar 70% desain klasik yang abadi memancarkan keanggunan wanita Indonesia.

(2)   Natur-E, satu-satunya vitamin alamiah dalam soft capsule untuk mengatasi kelesuan dan memperlambat proses penuaan.

3. Gaya Bahasa Pronomasia

Pronomasia adalah gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata yang berbunyi sama tetapi bermakna lain; kata- kata yang sama bunyinya tetapi artinya berbeda (Ducrot & Todorov 1981 : 278; Guntur Tarigan, 2009 : 64).

Istilah Pronomasia ini sering juga disamakan dengan yang mengandung makna yang sama (ef. Keraf,1985 : 145; Guntur Tarigan,2009 : 64).

Berdasarkan beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa pronomasia adalah gaya bahasa yang berisi penjajaran kata-kata yang berbunyi sama yang memiliki arti yang sama maupun berbeda.

Contoh:

(1)   Procol sirup……sirup obat flu dan turun panas yang dibuat khusus untuk anak-anak.

(2)   Bila Ibu memilih Procold sirup sebagai sirup obat flu dan turun panas untuk anak tanpa alkohol .

4. Gaya Bahasa Hiperbola

Hiperbola adalah sejenis gaya bahasa yang mengandung pernyataan yang melebih-lebihkan jumlahnya, ukuranya dan sifatnya dengan maksud memberi penekanan pada suatu pernyataan atau situasi untuk memperhebat, meningkatkan kesan pengaruhnya. Gaya bahasa ini melibatkan kata-kata, frase, atau kalimat (Tarigan,1984 : 143; Tarigan 1985 : 186; Guntur Tarigan 2009 : 55)

Dengan kata lain hiperbola ialah ungkapan yang melebih-lebihkan apa yang sebenarnya dimaksudkan: jumlahnya,ukurannya, atau sifatnya (Moeliono,1984 : 3;Guntur Tarigan,2009 : 56)

Dari beberapa pendapat diatas dapat disimpulkan bahwa gaya bahasa hiperbola adalah jenis gaya bahasa yang mengandung ungkapan yang melebih-lebihkan baik itu jumlah, ukuran, dan sifatnya.

Contoh :

(1)   Dengan Citra … kulitnya jadi seputih mutiara.

(2)   Lihat, dengan BEBELAC No. 2 ia tumbuh lebih pesat, sehat dan cerdas!

C.  Fungsi Gaya Bahasa

Gaya bahasa merupakan bentuk retorik yaitu penggunaan kata-kata dalam berbicara dan menulis untuk mempengaruhi pembaca atau pendengar (Guntur Tarigan,2009 : 4). Bertolak dari pernyataan tersebut, dapat dilihat fungsi gaya bahasa yaitu sebagai alat untuk meyakinkan atau mempengaruhi pembaca atau pendengar.

Disamping itu, gaya bahasa juga berkaitan dengan situasi dan suasana karangan. Maksudnya ialah bahwa gaya bahasa menciptakan keadaan perasaan hati tertentu, misalnya kesan baik ataupun buruk, senang tidak enak dan sebagainya yang diterima pikiran dan perasaan karena pelukisan tempat, benda-benda, suatu keadaan atau kondisi tertentu (Ahmadi,1990 : 169).

Selain pendapat diatas, Guntur Tarigan (2009 : 4) Mengatakan bahwa kadang-kadang dengan kata-kata belumlah begitu jelas untuk menerangkan sesuatu; oleh karena itu dipergunakanlah persamaan, perbandingan serta kata-kata kias lainnya. Bertolak dari beberapa pendapat diatas, dapatlah dilihat fungsi gaya bahasa yaitu sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap gagasan yang disampaikan, alat untuk memperjelas sesuatu dan alat untuk menciptakan keadaan hati tertentu.

Berdasarkan beberapa pendapat tentang fungsi gaya bahasa yang telah dipaparkan di atas, dapat disimpulkan fungsi gaya bahasa adalah sebagai berikut:

(1) gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk mempengaruhi atau meyakinkan pembaca atau pendengar, maksudnya gaya bahasa dapat membuat pembaca atau pendengar semakin yakin dan percaya terhadap apa yang disampaikan penulis;

(2) gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk menciptakan keadaan perasaan hati tertentu, maksudnya gaya bahsa dapat menjadikan pembaca hanyut dalam suasana hati tertentu, misalnya kesan baik atau buruk, senang, tidak enak dan sebagainya setelah mengetahui tentang apa yang disampaikan penulis;

(3) gaya bahasa berfungsi sebagai alat untuk memperkuat efek terhadap gagasan yang disampaikan, maksudnya gaya bahasa dapat membuat pembaca atau pendengar terkesan terhadap agasan yang disampaikan penulis atau pembicara.

D. Pengertian Reklame

Reklame adalah setiap kegiatan yang bertujuan memberikan informasi atau memberikan suatu ide, barang atau jasa, dengan maksud untuk menarik perhatian orang-orang terhadap ide, barang atau jasa yang diinformasikan tersebut (Barata,1988 : 210). Lebih lanjut Panji (1990 : 120) mengemukakan reklame adalah setiap kegiatan yang bertujuan untuk memperkenalkan suatu barang atau jasa atau hal lainnya dengan maksud untuk menarik perhatian khalayak ramai. Reklame yang baik bukan hanya sekedar menarik perhatian khalayak ramai atau umum, tetapi  ia harus dapat menggerakkan keinginan orang untuk membeli atau menguasai barang atau hal yang direklamekan.

Bertolak dari pendapat di atas, dapat disimpulkan bahwa reklame ialah setiap kegiatan yang bertujuan memberikan informasi kepada khalayak ramai tentang suatu barang, jasa atau hal lain dengan maksud menarik perhatian dan keinginan tentang yang diinformasikan.

E. Syarat-syarat Reklame

Agar reklame lebih menarik perhtian, maka kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang dipertimbangkan harus ditulis dengan huruf-huruf yang menonjol atau tebal atau huru-huruf yang dibesarkan. Ungkapan reklame harus singkat, jelas, dan menarik perhatian pembaca. Kata-kata atau gambar-gambar yang dimuat dalam reklame haruslah disesuaikan dengan besar kecilnya kolom reklame.

Barata (1988 : 211) mengemukakan reklame harus memenuhi beberapa syarat, antara lain

(1)  mencolok, maksudnya suatu reklame harus kelihatan mencolok agar mudah terlihat oleh khalayak ramai; suatu reklame akan kelihatan mencolok karena ukurannya, penempatannya, warnanya, tulisannya atau gambarnya;

(2) jelas, singkat dan mudah dimengerti, maksudnya kata-kata atau kalimat-kalimat yang digunakan harus jelas, singkat dan mudah dimengerti oleh khalayak yang membacanya;

(3) menarik, maksudnya suatu reklame hendaknya menarik khalayak yang melihatnya; untuk itu, dapat diberi gambar, warna, maupun bahasa yang menarik dan mudah diingat setiap orang;

(4) jujur, maksudnya reklame hendaknya mengandung pesan yang benar dan jujur (tidak menipu);

(5) dilakukan berulang-ulang atau mempunyai jangka yang cukup lama, maksudnya adalah suatu reklame hendaknya dipasng berulang-ulang, karena bila hanya dilakukan satu kali (misalnya di koran, majalah, dan radio) belum tentu semua orang melihat atau mendengar dari satu kali pemasangan saja. Jika pemasangan itu hanya dilakukan satu kali, maka harus dipilih yang dapat dijangkau lama, seperti pemasangan papan reklame (bill board) maupun spanduk (barnner) di tempat srtategis.

Dari beberapa uraian di atas dapat disimpulkan bahwa suatu reklame harus memenuhi syarat-syarat sebagai berikut

(1)  kata-kata atau ungkapan-ungkapan yang dipentingkan harus ditulis dengan huruf-huruf yang mononjol atau tebal atau huruf-huruf yang dibesarkan;

(2) reklame harus kelihatan mencolok agar mudah terlihat oleh umum;

(3) kata-kata atau kalimat-kalimat yang digunakan harus jelas, singkat dan mudah dimengerti oleh khalayak yang membacanya;

(4) hendaknya menarik khalayak yang melihatnya; untuk itu, dapat diberi gambar, warna, maupun bahasa yang menarik dan mudah diingat setiap orang;

(5) reklame hendaknya mengandung pesan yang benar dan jujur (tidak menipu);

(6) reklame hendaknya dipasng berulang-ulang, karena bila hanya dilakukan satu kali (misalnya di koran, majalah, dan radio) belum tentu semua orang melihat atau mendengar dari satu kali pemasangan saja. Jika pemasangan itu hanya dilakukan satu kali, maka harus dipilih yang dapat dijangkau lama, seperti pemasangan papan reklame (bill board) maupun spanduk (barnner) di tempat srtategis.

F. Fungsi Reklame

Barata (1988 : 214-215) menyatakan bahwa peranan atau fungsi reklame dalam perdagangan atau bisnis adalah sebagai berikut

(1) memberikan informasi kepada khalayak atau konsumen tentang perusahaan, produk atau barang maupun jasa;

(2) mempengaruhi atau membujuk khalayak atau konsumen sehingga mereka akan mau melakukan pembelian;

(3) menciptakan kesan tertentu tentang  jasa atau barang yang direklamekan;

(4) memberikan kepuasan tertentu sesuai dengan keinginan konsumen;

(5) merupakan alat komunikasi antara penjual dengan calon pembeli atau konsumen.

G. Pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA

Kualitas pendidikan di Indonesia perlu ditingkatkan untuk menghadapi era globalisasi yang penuh dengan persaingan dan pasar bebas. Masalah-masalah yang menyangkut usaha untuk meningkatkan kualitas pendidikan di Indonesia merupakan hal yang sangat menarik untuk ditelaah.

Pelaksanaan KTSP sejak tahun 2006 merupakan salah satu bentuk upaya kongkret dari pemerintah Indonesia dalam menyikapi permasalah pendidikan Nasional, terutama mengenai input dan output pendidikan. Kurikulum tersebut membekali peserta didik dengan berbagai kemampuan yang sesuai dengan tuntutan zaman dan tuntutan revormasi guna menjawab tantanan arus globalisasi.

Tujuan utama KTSP ialah memandirikan atau memberdayakan sekolah dalam memgembangkan dan mengelola kurikulum yang akan disampaikan kepada peserta didik sesuai dengan karakteristik sekolah dan kondisi lingkungan (Muslich,2007 : 10). KTSP memberikan kebebasan kepada guru untuk memilih metode pembelajaran dalam proses belajar mengajar. Kebebasan tersebut diberikan dengan alasan agar guru lebih kreatif dalam mengolah pembelajaran sehingga dapat mengembangkan seluruh potensi menanamkan kehidupan yang demokratis, dan menjadikan sebagai sumber belajar.

Selain itu, pelaksanaan KTSP menuntut guru bukan hanya sekedar sebagai sumber informasi, guru juga harus dapat memberi semangat pada siswa agar proses belajar mengajar berjalan dengan baik. Ketika proses belajar mengalami kejenuhan dan siswa mulai merasa bosan, seorang guru harus dapat memberi inovasi media pembelajaran yang dapat membangkitkan kembali minat siswa tentang pelajaran yang dipelajari.

Dalam KTSP proses belajar mengajar menyangkut tiga komponen, yaitu perencanaan, pelaksanaan, dan evaluasi. Perencanaan pembelajaran merupakan langkah awal yang harus dilakukan sebelum melakukan pelaksanaan dan penelitian pembelajaran dalam kegiatan belajar mengajar. Penelitian ini tidak mendeskripsikan tiga komponen tersebut, tetapi hanya bertolak pada satu aspek atau komponen yaitu perencanaan pembelajaran. Dalam hal ini, pemilihan bahan pembelajaran yang dapat digunakan dalam perencanaan pembelajaran Bahasa Indonesia di SMA yang berkenaan dengan penelitian ini adalah materi pembelajaran mengenai penggunaan gaya bahasa Indonesia.

Berdasarkan pemaparan beberapa program pembelajaran Bahasa Indonesia, tampak bahwa banyak sekali materi pembelajaran yang berkaitan dengan gaya bahasa. Aplikasi pembelajaran gaya bahasa bertujuan agar siswa mampu memahami penggunaan gaya bahasa dengan baik. Dengan demikian, gaya bahasa merupakan hal penting yang harus dipahami siswa agar dapat dengan mudah mengikuti kegiatan belajar mengajar yang berkaitan dengan hal tersebut. Pemahaman siswa mengenai gaya bahasa dapat meningkat apabila guru mengarahkan siswa untuk selalu mempelajari gaya bahasa. Salah satu mempelajari gaya bahasa yang sifatnya sederhana adalah dengan menganalisis gaya bahasa reklame yang kerap mereka temui dalam kehidupan sehari-hari. Hal itu juga dapat menjadi solusi dari kurangnya waktu belajar gaya bahasa pada jam pelajaran di sekolah.

download tulisan lengkap : silahkan lihat donk

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.