Bahasa Indonesia Kajian Intertekstual

KAJIAN INTERTEKS

Kajian intertekstualitas dimaksudkan sebagai kajian terhadap sejumlah teks (sastra), yang diduga mempunyai bentuk-bentuk hubungan tertentu, misalnya untuk menemukan adanya hubungan unsur-unsur intrinsic seperti ide, gagasan, peristiwa, plot, penokohan, (gaya) bahasa, dan lainnya, di antara teks yang dikaji.

Secara khusus dapat dikatakan bahwa kajian interteks berusaha menemukan aspek-aspek tertentu yang telah ada pada karya-karya sebelumnya pada karya yang  muncul lebih kemudian. Tujuan kajian interteks itu sendiri adalah untuk memberikan  makna  secara  lebih  penuh  terhadap karya tersebut. Penulisan dan atau pemunculan sebuah karya sering ada kaitannya dengan unsur kesejarahannya sehingga pemberian makna itu akan lebih lengkap jika dikaitkan dengan unsur kesejarahan itu (Teeuw, 1983: 62-5).

Secara luas interteks diartikan sebagai jaringan hubungan antara satu teks dengan teks lain. Lebih dari itu, teks itu sendiri secara etimologis (textus, bahasa Latin) berarti tenunan, anyaman, penggabungan, susunan, dan jalinan. Produksi makna terjadi dalam interteks, yaitu melalui proses oposisi, permutasi, dan transformasi. Penelitian dilakukan dengan cara menemukan hubungan-hubungan bermakna di antara dua teks atau lebih. Teks-teks yang dikerangkakan sebagai interteks tidak terbatas sebagai persamaan genre, interteks memberikan kemungkinan yang seluas-luasnya bagi peneliti untuk menemukan hipogram. Hubungan yang dimaksud tidak semata-mata sebagai persamaan, melainkan juga sebaliknya sebagai pertentangan, baik nsebagai parody maupun negasi (Ratna, 2004: 172-173).

Masalah ada tidaknya hubungan antarteks ada kaitannya dengan niatan pengarang  dan tafsiran pembaca. Dalam kaitan ini Luxemburg dkk (1989:10) mengartikan  intertekstualitas sebagai: kita menulis dan membaca dalam suatu interteks suatu  tradisi budaya, sosial, dan sastra yang tertuang dalam teks-teks. Setiap teks sebagian bertumpu pada konvensi sastra dan bahasa dan dipengaruhi oleh teks-teks sebelumnya.

Kajian intertekstual berangkat dari asumsi bahwa kapan pun karya tulis, ia tidak  mungkin lahir dari situasi kekosongan budaya. Unsur budaya, termasuk semua konvensi dan  tradisi di masyarakat, dalam wujudnya yang khusus berupa teks-teks kesastraan yang ditulis sebelumya. Dalam hal ini kita dapat mengambil contoh, misalnya, sebelum para pengarang Balai Pustaka menulis novel, di masyarakat telah ada hikayat dan berbagai cerita lisan lainnya seperti pelipur lara. Sebelum para penyair Pujangga Baru menulis puisi-puisi moderennya, di masyarakat telah  ada  berbagai  bentuk  puisi  lama,  seperti  pantun  dan  syair, di samping mereka juga berkenalan dengan puisi angkatan 80-an di negeri Belanda yang telah mentradisi. Kemudian, sebelum Chairil Anwar dan kawan-kawan seangkatannya menulis puisi  dan  prosa di masyarakat juga  telah ada  puisi-puisi modern ala Pujangga baru, berbagai puisi drama, di samping tentu saja puisi-puisi lama. Demikian pula halnya dengan penulisan prosa, dan begitu seterusnya, terlihat adanya kaitan mata rantai antara penulisan karya sastra dengan unsur kesejarahannya. Penulisan suatu karya sastra tak mungkin dilepaskan dari unsur kesejarahannya, dan pemahaman terhadapnya pun haruslah mempertimbangkan unsur kesejarahan  itu. Makna keseluruhan  sebuah karya, biasanya,  secara penuh baru  dapat  digali  dan  diungkap  secara  tuntas  dalam  kaitannya  dengan  unsur kesejarahan tersebut.

Karya sastra yang ditulis lebih kemudian, biasanya mendasarkan diri pada karya-karya lain yang telah ada sebelumnya, baik secara langsung maupun tidak langsung, baik dengan cara meneruskan maupun menyimpang (menolak, memutarbalikkan esensi) konvensi.  Riffaterre mengatakan  bahwa  karya  sastra selalu merupakan tantangan, tantangan yang terkandung dalam perkembangan sastra sebelumnya, yang secara  konkret mungkin berupa sebuah atau sejumlah karya. Hal  itu, sekali lagi, menunjukkan keterikatan suatu karya dari karya-karya lain yang melatarbelakanginya.

Karya sastra yang dijadikan dasar penulisan bagi karya yang kemudian disebut  sebagai hipogram. Istilah hipogram, barangkali dapat diindonesiakan menjadi  latar, yaitu dasar, walau mungkin tak tampak secara eksplisit, bagi penulisan karya yang lain wujud hipogram mungkin berupa penerusan konvensi, sesuatu  yang telah bereksistensi, penyimpangan dan pemberontakan konvensi, pemutarbalikan esensi dan amanat teks sebelumnya (Teeuw, 1983:65). Dalam istilah lain, penerusan tradisi dapat juga disebut sebagai mitos pengukuhan, sedangkan  penolakan  tradisi  sebagai  mitos  pemberontakan. Kedua hal  tersebut boleh dikatakan sebagai sesuatu yang wajib hadir dalam penulisan teks kesastraan,  sesuai dengan hakikat kesastraan itu yang selalu berada dalam ketegangan  antara  konvensi dan invensi, mitos pengukuhan dan mitos pemberontakan.

Adanya karya-karya yang ditransformasikan dalam penulisan karya sesudahnya  ini menjadi  perhatian utama kajian intertekstual misalnya lewat pengontrasan  antara  sebuah karya dengan karya lain yang diduga menjadi hipogramnya.  Adanyanya unsur hipogram dalam suatu karya, hal itu mungkin disadari mungkin  tidak disadari oleh pengarang. Kesadaran pengarang terhadap karya yang menjadi  hipogramnya, mungkin berwujud dalam sikapnya yang meneruskan atau  sebaliknya menolak, konvensi yang berlaku sebelumnya. Kita lihat  misalnya,  Chairil Anwar menolak wawasan estetika sajak-sajak angkatan sebelumnya  dan  menawarkan wawasan estetika baru yang ternyata mendapat sambutan secara  luas. Hal itu terlihat, misalnya, dengan banyaknya penyair sesudahnya yang  berguru pada puisi-puisinya  sehingga  hal itu pun akibatnya menjadi konvensi pula.

Dalam kaitannya dengan hipogram itu, Julia Kristeva mengemukakan bahwa  tiap teks merupakan sebuah mosaik kutipan-kutipan, tiap teks merupakan penyerapan  dan  transformasi  dari  teks-teks  lain. hal itu berarti, bahwa tiap teks yang  lebih  kemudian mengambil unsur-unsurtertentu yang dipandang baik dari teks  sebelumnya, yang kemudian diolah dalam karya sendiri berdasarkan tanggapan pengarang yang bersangkutan. Dengan demikian, walau sebuah karya berupa dan mengandung unsur ambilan dari berbagai teks lain, karena telah diolah dengan  pandangan dan daya kreativitasnya sendiri,  dengan  konsep  estetika  dan pikiran-pikirannya, karya yang dihasilkan tetap mengandung dan mencerminkan sifat kepribadian penulisnya.

Sebuah teks kesastraan yang dihasilkan dengan kerja yang demikian dapat dipandang sebagai karya  yang baru. Pengarang dengan kekuatan imajinasi, wawasan estetika, dan horison harapannya sendiri, telah mengolah dan mentransformasikan karya-karya lain ke dalam karya sendiri. Namun, unsur-unsur tertentu dari karya-karya lain tersebut, yang mungkin berupa konvensi, bentuk formal tertentu,  gagasan, tentulah masih dapat dikenali (Pradopo,  1987:  228).

Usaha pengidentifikasian hal-hal itu dapat dilakukan dengan memperbandingkan antara teks-teks tersebut. Dalam penulisan teks  kesastraan,  orang membutuhkan  konvensi, aturan, namun hal itu  sekaligus akan disimpanginya. Levin bahkan mengatakan bahwa pengakuan konvensi dalam sejarah bertepatan dengan  penolakannya. Penulisan sebuah teks kesastraan tidak mungkin  tunduk seratus  persen  pada  konvensi.

Pengarang  yang  notabene  memiliki daya kreativitas tinggi menciptakan yang baru, yang asli. Namun, pembaharuan yang  ekstrem dengan menolak semua konvensi akan berakibat karya  yang dihasilkankurang dapat dipahami dan tidak komunikatif. Penyimpangan memang perlu dilakukan namun ia tentunya masih dalam batas-batas  tertentu, masih ada unsur konvensi di dalamnya, sehingga masih ada celah yang dapat dimanfaatkan pembaca yang memang telah berada dalam konvensi dan tradisi tertentu.

Prinsip intertekstualitas yang utama adalah prinsip memahami dan memberikan  makna karya yang bersangkutan. Karya itu diprediksikan sebagai reaksi, penyerapan, atau transformasi dari karya yang lain. masalah intertekstual lebih  dari sekedar pengaruh, ambilan, atau jiplakan, melainkan bagaimana  kita memperoleh makna  sebuah  karya  secara  penuh  dalam  kontrasnya  dengan  karya yang lain yang menjadi hipogramnya, baik berupa teks fiksi maupun puisi.

Adanya  hubungan intertekstualitas dapat dikaitkan dengan teori  resepsi.  Pada dasarnya pembacalah yang menentukan ada atau  tidak  adanya kaitan antara  teks yang satu dengan teks yang lain itu, unsur-unsur hipogram itu, berdasarkan persepsi, pemahaman, pengetahuan, dan pengalamannya membaca teks-teks lain sebelumnya. Penunjukan terhadap adanya unsur-unsur hipogram pada suatu karya dari  karya-karya  lain  pada  hakikatnya  merupakan  penerimaan  atau  reaksi pembaca.

Download Tulisan Lengkap : Kajian Interteks dan Penerapan

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.